Archive for bioenergi

Alkohol: dari 95% menjadi 99,5%

bioetanol hasil destilasi pertama masih berkadar alkohol 95%  masih mengandung air sebesar 5 %, sedangkan untuk penggunaan bahan bakar mesin haruslah menggunakan bioetanol dengan kadar alkohol 99,5 %  untuk menghindari terjadinya karat pada mesin.

Untuk memurnikan alkohol menjadi 99,5% dapat digunakan batu gamping yang ditumbuk sehingga halus seperti tepung. Batu gamping berfungsi sebagai penyerap air. Walaupun demikian batu gamping juga menyerap alkohol sehingga hampir 30% persen alkohol akan hilang . Oleh karena itu perlu dicari lagi cara-cara pemurnian alkohol yang lebih efisien.

Cara pemurnian alkohol dengan Batu gamping .

1. Campurkan 7 liter bioetanol 90% dengan 2-3kg batu gamping yang ditumbuk.

2. Aduk rata dan diamkan selama 24 jam .

3. Lakukan penyaringan untuk memisahkan endapan batu gamping dengan cairan bioetanol. Lakukan penyulingan sekali lagi dalam mesin penyuling.

4. Hasilnya bioetanol dengan kadar alkohol 99,5%.

Leave a Comment

Pembuatan alkohol untuk bahan bakar

Produksi Bioetanol
Oleh Achmad N Hidayat – Nawapanca Engineering http://www.migas-indonesia.com

Teknologi produksi bioethanol berikut ini diasumsikan menggunakan jagung sebagai bahan baku, tetapi tidak menutup kemungkinan digunakannya biomassa yang lain, terutama molase.
Secara umum, produksi bioethanol ini mencakup 3 (tiga) rangkaian proses, yaitu: Persiapan Bahan baku, Fermentasi, dan Pemurnian.
Persiapan Bahan Baku
Bahan baku untuk produksi biethanol bisa didapatkan dari berbagai tanaman, baik yang secara langsung menghasilkan gula sederhana semisal Tebu (sugarcane), gandum manis (sweet sorghum) atau yang menghasilkan tepung seperti jagung (corn), singkong (cassava) dan gandum (grain sorghum) disamping bahan lainnya.

Persiapan bahan baku beragam bergantung pada bahan bakunya, tetapi secara umum terbagi menjadi beberapa proses, yaitu:

- Tebu dan Gandum manis harus digiling untuk mengektrak gula
- Tepung dan material selulosa harus dihancurkan untuk memecahkan susunan tepungnya agar bisa berinteraksi dengan air secara baik
- Pemasakan, Tepung dikonversi menjadi gula melalui proses pemecahan menjadi gula kompleks (liquefaction) dan sakarifikasi (Saccharification) dengan penambahan air, enzyme serta panas (enzim hidrolisis). Pemilihan jenis enzim sangat bergantung terhadap supplier untuk menentukan pengontrolan proses pemasakan.

Tahap Liquefaction memerlukan penanganan sebagai berikut:

- Pencampuran dengan air secara merata hingga menjadi bubur
- Pengaturan pH agar sesuai dengan kondisi kerja enzim
- Penambahan enzim (alpha-amilase) dengan perbandingan yang tepat
- Pemanasan bubur hingga kisaran 80 sd 90 C, dimana tepung-tepung yang bebas akan mengalami gelatinasi (mengental seperti Jelly) seiring dengan kenaikan suhu, sampai suhu optimum enzim bekerja memecahkan struktur tepung secara kimiawi menjadi gula komplek (dextrin). Proses Liquefaction selesai ditandai dengan parameter dimana bubur yang diproses menjadi lebih cair seperti sup.

Tahap sakarifikasi (pemecahan gula kompleks menjadi gula sederhana) melibatkan proses sebagai berikut:

- Pendinginan bubur sampai suhu optimum enzim sakarifikasi bekerja
- Pengaturan pH optimum enzim
- Penambahan enzim (glukoamilase) secara tepat
- Mempertahankan pH dan temperature pada rentang 50 sd 60 C sampai proses sakarifikasi selesai (dilakukan dengan pengetesan gula sederhana yang dihasilkan)

Fermentasi
Pada tahap ini, tepung telah sampai pada titik telah berubah menjadi gula sederhana (glukosa dan sebagian fruktosa) dimana proses selanjutnya melibatkan penambahan enzim yang diletakkan pada ragi (yeast) agar dapat bekerja pada suhu optimum. Proses fermentasi ini akan menghasilkan etanol dan CO2.

Bubur kemudian dialirkan kedalam tangki fermentasi dan didinginkan pada suhu optimum kisaran 27 sd 32 C, dan membutuhkan ketelitian agar tidak terkontaminasi oleh mikroba lainnya. Karena itu keseluruhan rangkaian proses dari liquefaction, sakarifikasi dan fermentasi haruslah dilakukan pada kondisi bebas kontaminan.

Selanjutnya ragi akan menghasilkan ethanol sampai kandungan etanol dalam tangki mencapai 8 sd 12 % (biasa disebut dengan cairan beer), dan selanjutnya ragi tersebut akan menjadi tidak aktif, karena kelebihan etanol akan berakibat racun bagi ragi.
Dan tahap selanjutnya yang dilakukan adalah destilasi, namun sebelum destilasi perlu dilakukan pemisahan padatan-cairan, untuk menghindari terjadinya clogging selama proses distilasi.

Distilasi
Distilasi dilakukan untuk memisahkan etanol dari beer (sebagian besar adalah air dan etanol).
Titik didih etanol murni adalah 78 C sedangkan air adalah 100 C (Kondisi standar). Dengan memanaskan larutan pada suhu rentang 78 – 100 C akan mengakibatkan sebagian besar etanol menguap, dan melalui unit kondensasi akan bisa dihasilkan etanol dengan konsentrasi 95 % volume.

Prosentase Penggunaan Energy
Prosentase perkiraan penggunaan energi panas/steam dan listrik diuraikan dalam tabel berikut ini:

Prosentase Penggunaan Energi
Identifikasi Proses Steam Listrik
Penerimaan bahan baku, penyimpanan, dan penggilingan 0 % 6.1 %
Pemasakan (liquefaction) dan Sakarifikasi 30.5 % 2.6 %
Produksi Enzim Amilase 0.7 % 20.4 %
Fermentasi 0.2 % 4 %
Distilasi 58.5 % 1.6 %
Etanol Dehidrasi (jika ada) 6.4 % 27.1 %
Penyimpanan Produk 0 % 0.7 %
Utilitas 2.7 % 27 %
Bangunan 1 % 0.5 %
TOTAL 100 % 100 %

Sumber:
A Guide to Commercial-Scale Ethanol Production and Financing, Solar Energy Research Institute (SERI), 1617 Cole Boulevard, Golden, CO 80401

PERALATAN PROSES

Adapun rangkaian peralatan proses adalah sebagai berikut:

  • Peralatan penggilingan
  • Pemasak, termasuk support, pengaduk dan motor, steam line dan insulasi
  • External Heat Exchanger
  • Pemisah padatan – cairan (Solid Liquid Separators)
  • Tangki Penampung Bubur
  • Unit Fermentasi (Fermentor) dengan pengaduk serta motor
  • Unit Distilasi, termasuk pompa, heat exchanger dan alat kontrol
  • Boiler, termasuk system feed water dan softener
  • Tangki Penyimpan sisa, termasuk fitting
  • Tangki penyimpan air hangat, termasuk pompa dan pneumatik
  • Pompa Utilitas, Kompresor dan kontrol
  • Perpipaan dan Electrikal
  • Peralatan Laboratorium
  • Lain-lain, termasuk alat-alat maintenance

Comments (1)

Jatropha curcas atau jarak pagar mungkin merupakan tanaman yang paling cocok untuk digunakan sebagai biodiesel. Disamping biji nya digunakan sebagai biodiesel, Jarak pagar memiliki banyak keunggulan.

Ada 16 keunggulan yang dimiliki oleh Jarak pagar. antara lain

1. Jatropha curcas adalah tanaman perennial , dapat bertahan lebih dari 16tahun.

2. Dapat ditanam pada lahan kritis

3. Penanganan sederhana

4. Memproduksi minyak yang menggantikan minyak bumi

5. Menciptakan lapangan kerja

6. Limbah pengolahan jarak pagar kaya dengan unsur hara

7. Limbah/ampas jarak pagar dapat dipress dan digunakan sebagai bahan bakar.

8. Mulai berbunga pada umur 120 hari

9. Memiliki daya tahan yang tinggi terhadap penyakit

10. Mempunyai akar yang dalam sehingga dapat hidup pada lahan kering.

11. Setelah umur 6 bulan tidak akan diserang oleh semut.

12.Bisa ditanam dengan tumpang sari dengan tanaman karet.

13. Tidak perlu menggusur tanaman asli.

14. Tidak berkompetisi dengan tanaman pangan, karena menggunakan lahan kritis.

15. Dapat menghasilkan income bagi pemilik tanah.

16. Dapat digunakan untuk mengusir serangga .

Leave a Comment

Hubungi alamat ini untuk mendapatkan informasi enzym pembuatan bioetanol

Sering ada pertanyaan ke email saya atau lewat komen situs ini , dimana mendapatkan enzym alpha/gluco amylase dan beta amilase dan lain-lainnya . Keterangan lengkap saya dapatkan setelah menghubungi situs via email http://indobiofuel.com/

jawaban email tersebut kiranya berguna berguna bagi pembaca yang memerlukan peralatan lengkap pembuatan bioetanol.

(dapat dilihat situs http://indobiofuel.com/)

biological-supply

biological-supply

utk pemesanan biological supply bioethanol (READY STOCK):
1/enzim alfa=Rp 60rb /botol 500gr (Bacillus Licheniformis)
2/enzim gluko=Rp 60rb /botl 500gr (Aspergillus niger)
3/ragi etanol =Rp60rb / pak 500gr (Saccharomyces cerevisiae)
4/molecular sieve = Rp85rb / pak 1kg (utk proses dehydrasi)

5/alat ukur,lab tools (spg meter utk ukur kadar pati,
alkohol meter utk ukur kadar alkohol pd bioetanol,
brix meter utk ukur kadar gula, pH meter utk ukur kdr
ph sewaktu fermentasi, dll):

dpt dilakukan di :
Contact person: Bpk. Santo
Tel. 087877103052, Flexi. (0251) 9237314

SBRC – Institut Pertanian Bogor
Jl. Raya Pajajaran, Bogor, Indonesia
Email : info.sbrc@gmail.com , URL: www.sbrc-ipb.com

Comments (2)

bikin alkohol

Tujuh tahun terakhir Zaenai Arifin rutin mengolah 1,5 ton singkong segar per hari menjadi keripik. Hasilnya 600kg keripik iajuaike beberapa daerah di Pulau Jawa, Bali, dan Lampung. Selain keripik, singkong juga sering diolah menjadi tapai. Begitulah secara turun-temurun anggota famili Euphorbiaceae itu dimanfaatkan. Namun, setahun terakhir singkong juga mengisi tangki-tangki motor dan mobil. Kendaraan itu melaju dengan bahan bakar singkong

Singkong diolah menjadi bioetanol, pengganti premium. Menurut Dr Ir Tatang H Soerawidjaja, dari Tcknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB), singkong salah satu sumber pati. Pati senyawa karbohidrat kompleks. Sebelum difermentasi, pati diubah menjadi glukosa, karbohidrat yang lebih sederhana. Untuk mengurai pati, perlu bantuan cendawan Aspergillus sp. Cendawan itu menghasilkan enzim alfamilase dan gliikoamilase yang berperan mengurai pati menjadi glukosa alias gula sederhana. Setelah menjadi gula, bam difermentasi menjadi etanol.

Lalu bagaimana cara mengolah singkong menjadi etanol? Berikut Langkah-langkah pembuatan bioetanol berbahan singkong yang dilerapkan Tatang H Soerawidjaja. Pengolahan berikut ini berkapasitas 10 liter per hari.

1. Kupas 125 kg singkong segar, semua jenis dapal dimanfaatkan. Bersihkan dan cacah berukuran kecil-kecil.

2. Keringkan singkong yang telah dicacah hingga kadar air maksimal 16%. Persis singkong yang dikeringkan menjadi gaplek. Tujuannya agar lebih awet sehingga produsen dapat menyimpan sebagai cadangan bahan baku

3.Masukkan 25 kg gaplek ke dalam tangki stainless si eel berkapasitas 120 liter, lalu tambahkan air hingga mencapai volume 100 liter. Panaskan gaplek hingga 100″C selama 0,5 jam. Aduk rebusan gaplek sampai menjadi bubur dan mengental.

4. Dinginkan bubur gaplek, lalu masukkan ke dalam langki sakarifikasi. Sakarifikasi adalah proses penguraian pati menjadi glukosa. Setelah dingin, masukkan cendawan Aspergillus yang akan memecah pati menjadi glukosa. Untuk menguraikan 100 liter bubur pati singkong. perlu 10 liter larutan cendawan Aspergillus atau 10% dari total bubur. Konsentrasi cendawan mencapai 100-juta sel/ml. Sebclum digunakan, Aspergilhis dikuhurkan pada bubur gaplek yang telah dimasak tadi agar adaptif dengan sifat kimia bubur gaplek. Cendawan berkembang biak dan bekerja mengurai pati

5.Dua jam kemudian, bubur gaplek berubah menjadi 2 lapisan: air dan endapan gula. Aduk kembali pati yang sudah menjadi gula itu, lalu masukkan ke dalam tangki fermentasi. Namun, sebelum difermentasi pastikan kadar gula larutan pati maksimal 17—18%. Itu adalah kadar gula maksimum yang disukai bakteri Saccharomyces unluk hidup dan bekerja mengurai gula menjadi alkohol. Jika kadar gula lebth tinggi, tambahkan air hingga mencapai kadar yang diinginkan. Bila sebaliknya, tambahkan larutan gula pasir agar mencapai kadar gula maksimum.

6 Tutup rapat tangki fermentasi untuk mencegah kontaminasi dan Saccharomyces bekerja mengurai glukosa lebih optimal. Fermentasi berlangsung anaerob alias tidak membutuhkan oksigen. Agar fermentasi optimal, jaga suhu pada 28—32″C dan pH 4,5—5,5.

7. Setelah 2—3 hari, larutan pati berubah menjadi 3 lapisan. Lapisan terbawah berupa endapan protein. Di atasnya air, dan etanol. Hasil fermentasi itu disebut bir yang mengandung 6—12% etanol

8.Sedot larutan etanol dengan selang plastik melalui kertas saring berukuran 1 mikron untuk menyaring endapan protein.

9. Meski telah disaring, etanol masih bercampurair. Untuk memisahkannya, lakukan destilasi atau penyulingan. Panaskan campuran air dan etanol pada suhu 78″C atau setara titik didih etanol. Pada suhu itu etanol lebih dulu menguap ketimbang air yang bertitik didih 100°C. Uap etanol dialirkan melalui pipa yang terendam air sehingga terkondensasi dan kembali menjadi etanol cair.

10 Hasil penyulingan berupa 95% etanol dan tidak dapat larut dalam bensin. Agar larul, diperlukan etanol berkadar 99% atau disebut etanol kering. Oleh sebab itu, perlu destilasi absorbent. Etanol 95% itu dipanaskan 100″C. Pada suhu ilu, etanol dan air menguap. Uap keduanya kemudian dilewatkan ke dalam pipa yang dindingnya berlapis zeolit atau pati. Zeolit akan menyerap kadar air tersisa hingga diperoleh etanol 99% yang siap dieampur denganbensin. Sepuluh liter etanol 99%, membutuhkan 120— 130 lifer bir yang dihasilkan dari 25 kg gaplek

Tanggal Tayang : 12-1-2007
Sumber : Trubus

Comments (7)

Make your own biodiesel

Semua orang bisa membuat biodisel. Dengan sedikit kerja keras , dan banyak membaca sumber-sumber diinternet, membuat biodiesel bukan hal yang sulit.

Semua orang bisa membuat diesel . Biodiesel dihasilkan dari minyak tumbuhan/nabati seperti jagung, jarak pagar, kacang kedelai dan lain-lain. Biodiesel juga dapat dibuat dari minyak bekas memasak, sehingga lebih murah dan tentu saja mempunyai efek samping melestarikan lingkungan karena minyak yang seharusnya dibuang dapat dimanfaatkan. .

Dengan menggunakan biodiesel maka mobil anda akan melaju dengan lebih baik, bersih dan tidak mencemari lingkungan . Save the environment.

begini cara membuatnya-semua yang anda perlukan click

Click

Leave a Comment

Biodiesel processors

Building your own processor isn’t difficult. You don’t need any special skills or special tools. There are plans, designs and ideas here to help you. There’s also good advice to be had from experienced users at the Biofuel mailing list, and lots of good information in the searchable list archives:
http://www.mail-archive.com/biofuel@sustainablelists.org/

read the rest

Leave a Comment

The FOOLPROOF way to make biodiesel

To make biodiesel fuel efficiently from used vegetable oils and animal fats we have to avoid one major problem: soap formation. Soap is formed during base-catalyzed transesterification (using lye) when sodium ions combine with free fatty acids present in used (and some virgin) vegetable oils and animal fats. The soaps diminish the yield because they bond the methyl esters to water. The bonded esters get washed out at the washing stage but make water separation more difficult and increase water consumption. This process takes care of the free fatty acids.

read the rest

Leave a Comment

Aneka link tentang alkohol

Proses pembuatan alkohol secara industri tergantung bahan bakunya. Bahan yang
mengandung gula biasanya tidak atau sedikit saja memerlukan pengolahan
pendahuluan. Tetapi bahan-bahan yangmengandung pati atau selulosa harus
dihidrolisa terlebih dahulu menjadi gula yang dapat menjadi gula yang dapat
difermentasikan.
Pada prinsipnya reaksi dalam proses pembuatan alcohol dengan fermentasi
adalah sebagai berikut: click

Contoh destilator click disini (english)

Apa itu destilator ? selengkapnya baca disini

Comments (2)

skema pembuatan alkohol

 

Bahan yang telah difermentasi sudah mengalami perubahan menjadi alkohol dan air. Untuk memisahkan alkohol dan air , dilakukan dengan pemanasan pada tangki pemanasan (1) dan pendinginan di ruang destilator(2) . Pada destilator , pemisahan dilakukan dengan memanfaatkan perbedaan titik didih nya. Titik didih air berada pada 100C dan titik didih alkohol berada pada 80C. Pemanasan pada tangki pemanasan (2) dilakukan pada suhu 80C (termometer dibaca pada tangki destilator) . Alkohol yang masih berupa uap didinginkan pada ruang destilator(3), sehingga kembali menjadi cairan. Alkohol yang dihasilkan pada ruang destilator adalah alkohol dengan kandungan 90-95%.

Diagram diatas berlaku pada bahan yang sudah siap difermentasi , yaitu bahan yang sudah dalam bentuk gula sederhana. Misalnya Mollases , aren, dan nira. Bahan yang masih dalam bentuk pati harus diubah dahulu menjadi bentuk gula sederhana. Pengubahan pati menjadi gula disebut dengan hidrolisis. Hidrolisis menggunakan bantuan enzym alpha amilase dan beta amilase. Enzym ini telah tersedia dalam bentuk bubuk/powder atau dalam bentuk cairan.

 

Comments (4)

Older Posts »